Asal-Usul Pemerintahan Kabupaten Pemalang

PEMALANG JAMAN KERAJAAN-KERAJAAN

Pada zaman dahulu Pemalang merupakan sebuah daerah translitan atau tempat persinggahan dari kerajaan-kerajaan yang berada di jawa tengah, khususnya adalah Kerajaan Majapahit pada abad ke 13, namun jauh sebelumnya sekitar abad ke 6 atau 7 juga ada kerajaan atau padepokan yang berasal dari Gunung Slamet, dan Padepokan ini pengaruh kekuasaannya sampai wilayah Pemalang.  Perkembangan daerah Pemalang juga tak bisa dipisahkan dengan kerajaan-kerajan yang berada di Jawa Tengah, seperti halnya Kerajaan Mataram, Demak, Pajajaran. Dari daerah-daerah itupula terdapat tokoh, atau bisa dikatatakan sebagai Pahlawan Pemalang, dan dari situ pulalah mereka menjadi pemimpin wilayah Pemalang.

Pemimpin dari kabupaten Pemalang, selain dari orang Pemalang itu sendiri, kabupaten pemalang juga pernah dipimpin oleh penguasa yang berasal dari kerajaan-kerajaan di jawa tengah, seperti halnya kerajaan Pajang, kerajaan Majapahit. Pemimpin yang asli dari wilayah Pemalang, antara lain: Kanjeng Suwargi dan Mbah Dadung Ngawuk. Pemimpin yang berasal dari luar Pemalang antara lain:  Pangeran Benawa atau Sultan Hadining Jaya yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir, yang berasal dari Pajang dan Sultan Suralaya yang biasa dijuluki dengan sebutan Arya Penangsang. Namun pangeran Benawa hanya mampu memimpin wilayah pemalang sekitar 1 tahun lamanya, dan konon katanya, menurut kepercayaan penduduk setempat, Pangeran Benawa juga meninggal di daerah Pemalang, serta dimakamkan di Desa Penggarit.

Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa lampau. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di Kecamatan Moga. Makam-makam tokoh dari kabupaten Pemalang, seperti makam Syeikh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya makam Rohidin Sayyid Ngali.

Selain bukti-bukti arkeologis, terdapat pula bukti-bukti lain seperti, pembuatan jalan raya dan jembatan. Jembatan-jembatan tersebut antara lain adalah: jembatan Kali Comal, Jembatan Selarang,jembatan yang sebelum jalan Gili Petir, kalau dari arah Randudongkal. Bukti-bukti dari pembutan jalan, misalnya: pembutan jalan Gili Petir, dan Jalan dari Pagaran menuju daerah Widuri. Konon  katanya, pembutan jalan dan jembatan tersebut, hanya membutuhkan waktu tempuh sehari semalam dari dalam satu proyeknya. Misalnya pembuatan jalan serta jembatan Kali Comal yang terdapat di wilayah Randudongkal serta pembuatan Jembatan Selarang kali Waluh. Pembuatan jalan dan jembatan tersebut yang dibuat tak lebih dari satu malam adalah patih sampun. Kanjeng Suwargi menjuluki dengan sebutan patih sampun, karena apabila dikasih sebuah pekerjaan, maka ia akan mengatakan sampun. Perkataan tersebut bukan hanya isapan jempol belaka melainkan sebuah fakta atau kenyataan.

Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng, yang menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan tempat persinggahan dari kerajaan Mataram. R. Mangoneng, Merupakan tokoh pimpinan daerah yang bisa dikatakan sebagai seseorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad ke 17 .

Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang dikenal sebagai Gusti Sepuh. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat.

Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Pemalang pada masa Kolonial Belanda

Belanda masuk ke daerah pemalang pada abad ke 17, namun terdapat pertentangan keras dari Pangeran Benawa. Disisi lain disusul dengan Pangeran Suralaya yang berjuluk arya penangsang, sultan hadi wijijaya, Kanjeng Suwargi, dan sunan Amangkurat II.

Namun, terdapat pula sisi positif dari kedatangannya Kolonial Belanda di Pemalang. Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai kota administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan pada masa sekarang. Seperti halnya pembuatan jalan, sekolah, sarana masyarakat, dll.

Daftar Nama-Nama Bupati Pemalang

– Pangonen atau Mangunoneng pada sekitar tahun 1622
– Sunan Amangkurat II
– Ingabehi Subajaya Pada sekitar tahun 1652
– Pangeran Suralaya pada tahun 1820
– Reksadiningrat/Kanjeng Swargi  tahun 1825
– Raden Tumenggung Sumo Negoro/yang Mbahurekso Pada tahun 1832

Data yang diambil dari PERPUSTAKAAN DAERAH  KABUPATEN PEMALANG

  • RAA. Soedoro Adi Koesomo (Bupati pertama) 1930 – 1941
  • R.T.A Rahardjo Soeroadikoesoemo (Bupati ke 2) 1941 – 1946
  • Kiai Makmur (Bupati ke 3) 1947-19
  • Soewarno (Bupati ke 4) 1947 – 1948
  • Mochtar  (Bupati ke 5) 1950 – 1954
  • RM. Soemardi  (Bupati ke 6) 1954 – 1956
  • K. Machali (Bupati ke 7) 1957 – 1958
  • RM. Soemardjo  (Bupati ke 8) 1959 – 1966
  • Drs. Rivai Yusuf  (Bupati ke 9) 1967 – 1972
  • Drs. Soedarmo (Bupati ke 10) 1973 – 1975
  • Yoesuf Achmadi  (Bupati ke 11) 1975 – 1981
  • Slamet Hartanto, BA (BUpati ke 12) 1981 – 1991
  • Drs. Soewartono  (Bupati ke 13) 1991 – 1996
  • Drs. H. Munir  (Bupati ke 14) 1996 – 2000
  • H. Machroes, SH  (Bupati ke 15) 2000 – 2011
  • H.Junaedi, SE,MM ( Bupati ke 16 ) 2011-2016
  • H.Junaedi, SE,MM ( Bupati ke 17 ) 2016-2020

– RAA. SOEDORO ADI KOESOEMO (Bupati pertama) 1930 – 1941
– R.T.A RAHARDJO SOEROADIKOESOEMO (Bupati ke 2) 1941 – 1946
– Kiai Makmur (Bupati ke 3) 1947-19
– SOEWARNO (Bupati ke 4) 1947 – 1948
– MOCHTAR (Bupati ke 5) 1950 – 1954
– RM. SOEMARDI (Bupati ke 6) 1954 – 1956
– K. MACHALI (Bupati ke 7) 1957 – 1958
– RM. SOEMARTOJO (Bupati ke 8) 1959 – 1966
– Drs. RIVAI YUSUF (Bupati ke 9) 1967 – 1972
– Drs. SOEDARMO (Bupati ke 10) 1973 – 1975
– YOESOEF ACHMADI (Bupati ke 11) 1975 – 1981
– SLAMET HARYANTO,BA (BUpati ke 12) 1981 – 1991
– Drs. SOEWARTONO (Bupati ke 13) 1991 – 1996
– Drs. H. MUNIR (Bupati ke 14) 1996 – 2000
– H. MACHROES, SH  (Bupati ke 15) 2000 – 2010

  • H.Junaedi, SE,MM ( Bupati ke 16 ) 2011-2016
  • H.Junaedi, SE,MM ( Bupati ke 17 ) 2016-2020

Share kabar ini :

shares