Kyai Jamil Pemalang

Kyai Jamil, ulama sederhana di kota kecil Pemalang, Jawa Tengah, yang atau mengetahui sebelum terjadi. weruh sadurunge winarah. Suatu hari, seorang tukang becak bertengkar dengan istrinya. Pasalnya, si suami keliru memberikan sedekah kepada Kyai Jamil. Niatnya hanya mau mengeluarkan dua ratus rupiah dari dompet bututnya untuk pembangunan majlis taklim Kyai Jamil, tetapi yang diserahkan satu lembar sepuluh ribuan dan satu lembar ratusan. Tegur si istri, ”Itu kan hasil memeras keringat selama seminggu.” Tiba­-tiba wajah si suami berubah pias. ”Ssst, jangan ngomel terus, nanti Kyai Jamil dengar,” tukasnya. ”Dengar dari mana, wong rumahnya jauh,” bantah si istri. Hanya terpaut beberapa saat, tiba-tiba Kyai Jamil telah muncul di depan pintu. Sesudah mengucapkan salam, ulama sepuh tersebut langsung menyodorkan uang sepuluh ribuan sambil berkata, ”Tolong ambil uang ini, dan ganti dengan seratus rupiah saja.” Pasangan suami istri itu tak bisa menolak atau bersuara. Mereka kian yakin, Kyai Jamil betul-­betul wali yang serba tahu. Padahal keajaiban tersebut semata­mata berkat kejujuran dan nalar Kyai Jamil sehat. Mana mungkin tukang becak mampu memberi sedekah sepuluh ribu seratus rupiah, padahal penghasilannya sehari hanya sekitar dua ribu atau tiga ribu rupiah? Lagipula jumlah sepuluh ribu seratus rupiah rasanya sangat ganjil. Yang pantas seharusnya dua puluh ribu atau dua ratus rupiah.

Menurut pandangan Kyai Jamil, untuk tingkatan tukang becak lebih masuk akal kalau hanya mampu bersedekah dua ratus rupiah. Oh, andai kata semua pemuka agama, penggede negara, pengelola perusahaan, dan panutan masyarakat, memiliki kejujurandan nalar yang sehat seperti Kyai Jamil, barangkali Nabi saw takkan perlu mengingatkan, ”Inna syarra ummati aimmatuhum,sesungguhnya seburuk­buruk umatku adalah para pemimpin mereka.”Al Quran menjanjikan lewat salah satu ayat­Nya:”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, akan dikaruniai­Nya pertolongan dariarah yang tak tersangka­sangka.” (QS 65:3)

Bagi mereka yang tidak tahu asal­usulnya, lebih­lebih yang tak mengenal kekuatan dahsyat ibadah, pertolongan seperti yang dinyatakan Al Quran itu dianggap sekadar keajaiban alam. Padahal pertolongan itu merupakan fenomena supranatural yang tak terjelaskan melalui kata­kata. Hanya bisa ditangkap dengan penghayatan dan ketajaman mata batin yang dinamakan bashirah. Karena itu berbagai istilah digunakan oleh para pakar nonagamis untuk mengenali fenomena supranatural tersebut. Sedangkan dalam pandangan ulama sufi, pertolongan itu dibedakan sesuai tingkat ketakwaan seseorang.

Untuk kelebihan Kyai Jamil Pemalang yang dimiliki para wali, dinamakan karomah, artinya kemuliaan, lantaran datangnya dari Tuhan sebagai isyarat ketinggian martabat seorang hamba yang sangat taat kepada Penciptanya. Dalam suatu hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, ”Sesungguhnya Allah berfirman: Tidak seorang pun yang mendekatkan diri pada­Ku dengan amalan wajib dan amalan sunat yang Aku sukai, kecuali Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, ia akan mendengar dengan telinga­Ku, akan melihat dengan mataKu, akan menjamah dengan tangan­Ku, dan akan melangkah dengan kaki­Ku. Jika ia memohon pada­Ku pasti Kukabulkan, dan jika meminta perlindungan­Ku niscaya Kulindungi.” Selain itu, karomah bisa muncul pada seseorang yang tawakal dan jujur, yakni dua sifat kewalian yang utama. Dari sifat tawakal dan jujur akan lahir rasa keadilan dan kebijaksanaan yang lapang.

 Kisah Pertemuan Syekh Mustafa Mas’ud Al Haqqani Dengan Kyai Jamil Pemalang.

Syekh Mustafa Mas’ud Al Haqqani Kisah Mbah Jamil di Pemalang (waktu itu usianya sudah di atas 70 tahun). Dikatakan bahwa beliau ini adalah seorang Wali. Pada hari Selasa ketiga setiap bulan beliau selalu membahas Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali. Yang hadir kiai-­kiai sepuh di sekitar Pemalang. Sudah 25 tahun acara ini diselenggarakan. Pada suatu Selasa, Syekh Mustafa hadir dalam acara itu. Rumahnya dinding anyaman bambu berlantai tanah. Beliau duduk di balai­-balai bambu, hadirin duduk di tanah beralas tikar. Sebelum duduk, Syekh Mustafa maju dan bersalaman dengan beliau. Ketika mau mengambil tempat di lantai, beliau menggapai dan meminta Syekh Mustafa, untuk duduk disamping kanan beliau. Maka dimulailah pengajian itu denganhadirin diminta oleh beliau membaca Kitab yang dibahas itu.Diurut barisan pertama yang duduk di lantai, mulai darisebelah kanan beliau. Setelah sampai diujung kiri barispertama, kemudian menyuruh Syekh Mustafa melanjutkanmembaca kitab itu. Setelah dibaca, selanjutnya apa yangdibaca, dibahas Mbah Jamil. Setelah itu semua hadirin dijamuan nasi gulai kambing yang lezat sekali.  Puteranya yang hadir dalam acara itu membantu melayani (ngladeni) agar tamunyaman, juga tidak tahu Mbah Jamil dapat uang dari mana kok bisa menjamu nasi gulai setiap kali ada pengajian yangdihadiri puluhan orang itu.

Ada kisah menarik tentang Mbah Jamil. Seorang Habib yang tinggal di Jakarta, suatu malam bermimpi didatangi Nabi s.a.w. hanya untuk mengatakan beliau mengirim salam untuk Kiai Jamil. Mimpi itu bukan hanya sekali, tetapi tiga kali berturut-turut. Waktu mimpi sekali atau dua kali, beliau masih bertanya­-tanya saja dalam hati siapa Kiai Jamil ini. Tetapi setelah tiga kali, beliaupun takut sekali dan bertekad mencari dan menemui Kiai Jamil. Tentunya yang dikirimi salam oleh Nabi s.a.w. bukanlah orang biasa, tetapi nama Jamil tidaklah tersohor. Maka beliau memutuskan untuk menelusuri Pantura, yang terkenal banyak dihuni para wali. Beliau mengendarai sendiri mobilnya. Dan mobil inilah yang menuntun sehingga beliau bisa sampai ke rumah Mbah Jamil. Setiap kali beliau mengarahkan atau berniat belok ke arah yang akan menjauhkannya dari tujuan, mobil itu pasti mogok. Setelah bertemu mereka berangkulan dan menangis bahagia, sang Habib menangis karena berhasil menyampaikan amanah dari leluhurnya Nabi s.a.w. itu, dan Mbah Jamil menangis bahagia karena mendapat salam orang yang paling dicintainya.

Sumber : mistikus-sufi.blogspot.co.id

Share kabar ini :

shares