Mbah Nur Durya Bin Sayid Moga Pemalang

Sebagai orang Moga tentunya kita tak asing dengan salah satu ulama yang sangat terkenal karena kezuhudan dan kharismanya. Seorang ulama bahkan ada sebagian orang yang menggap beliau waliyullah yang masyhur dengan kesederhanaannya.  Ya, beliau bernama lengkap H. Nur Durya bin Sayyid atau orang biasa memanggilnya Mbah Nur. Kezuhudan dan kesederhanaan beliau tercermin dari tempat tinggal beliau yang sangat sederhana dipinggir sungai. Dari semasa hidup beliau hingga setelah wafatnya tempat tinggal yang juga sekarang menjadi makamnya selalu banyak dikunjungi orang-orang yang mengharap berkah dan karomah dari beliau.

Dalam buku yang berjudul “Karomah Para Kiai” yang ditulis oleh Samsul Munir Amin pada medio 2008, mengemukakan bahwa ada beberapa kiai sufi yang dianugerahi oleh Allah kemampuan lebih, sebagaimana kemampuan membaca sesuatu sebelum terjadi atau melihat hal-hal ghaib. Mbah Nur-pun demikian adanya, beliau salah satu kiai yang dianugerahi Allah  weruh sadurunge winarah menjadi bagian dari kemampuannya melihat yang tersurat dari yang tersirat.

Alkisah, suatu ketika pada sekitar 1974, Haji Samsuddin dan istrinya yang berasal dari daerah Tegal hendak melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Semua syarat dan berbagai macamnya sudah terpenuhi, tinggal menunggu keberangkatan.  Sambil menunggu keberangkatan, mereka sowan ke kediaman mbah Nur, untuk meminta doa dan berkah agar perjalanan haji mereka dilancarkan.

“Mohon doa restu, kiai. Tahun ini kami insya Allah akan melaksanakan ibadah haji. Doakan kami semoga lancar dan selamat,” kata H. Samsuddin. “Mau haji? haji Singapura?” ucap sang kiai tanpa ekspresi sedikit pun. Singkat cerita H. Samsuddin dan keluarganya pamit pulang, perkataan sang kiai menjadi teka-teki dibenaknya.  Di belakang hari kemudian teka-teki perkataan mbah Nur terjawab, saat jadwal keberangkatan, H. Samsuddin dan istrinya harus membatalkan rencana pergi haji nya tahun itu, walau pun mereka telah berada di embarkasi di Jakarta. Baru, pada tahun-tahun setelahnya mereka bisa menunaikan ibadah hajinya. Jawaban “Haji Singapura” dari mbah Nur, terbukti, kalau sang tamu tak bisa menunaikan ibadah haji pada tahun itu, seakan mbah Nur telah mengetahui peristiwa yang sebenarnya belum terjadi, weruh sadurunge winarah tadi.

Tahun ini genap 28 tahun wafatnya Mbah Nur, beliau wafat pada 9 Jumadil Awal 1409 Hijriyah atau pada 17 Desember 1988, saat itu penulis masih berumur sekita 10 tahun, cuaca mendung dan hujan deras selama tiga hari berturut-turut disekitar wilayah Moga mengiringi kepergian sang waliyullah, bahkan pohon besar di hutan Cempaka Wulung roboh waktu itu, Wallahu A’lam Bishawab.

MENYELAMATKAN SANTRINYA YANG SOWAN KETIKA BANJIR BANDANG DATANG

ada seorang santrinya mbah nor moga dari desa kangkung mranggen jawa tengah yaitu KH. Abdul Muid Elco yang sangat tandim dan patuh terhadap dawuh-dawuhnya mbah nur moga, dan setelah wafatpun beliau KH. Abdul Muid setiap tahun pasti kesana untuk meng kahuli gurunya itu, disuatu tahun kira2 tahun 2011an lampau, ketika selesai berzirah dan ingin pulang, gak tahu kenapa mobil bisnya macet dan gak bisa jalan dan diperbaiki sampai jam 3 malam tetap gak bisa nyala mobilnya, trus KH. Abdul Muid memutuskan untuk bermalam dimakamnya mbah nor,,, dan anehnya tanpa diapa-apakan, paginya mobil ituu bisa menyala sendiri, dan ketika sampai di pemalang kota, ternyata tadi malam ada bencana banjir besar bahkan air banjir bandang itu katanya warga sampai berwarna hitam,,, bahkan yang diakibatkan dari banjir bandang semalam yaitu putusnya jembatan comal pemalang karna diakibatkan banjir tadi malam itu,,, semenjak itu dengan kejadian mobil yang mogok tanpa adanya masalah itu bisa disimpulkan, bahwa mbah nor moga tidak mengijinkan santri kesayangannya pulang karna tidak ingin santrinya yang baru saja sowan itu kena musibah diperjalanan pulangnya. ( cerita ini dikutib dari rombongan peziarah khoul Mbah Noer Moga dari desa kangkung kecamatan Mranggen Kab. Demak )

MODAL PERJALANAN SOWAN PASTI SUDAH DIHIDANGKAN DI MEJA MBAH NOER MOGA

suatu saat ketika mbah nor moga masih sugeng ( hidup ). santri mbah Noer Moga K. Bardi  dan KH.Abdul Muid kepengin sowan kepada gurunya yaitu KH. Noer Durya Bin Sayid, dan ketika itu beliau gak punya sangu untuk kesana, dan yang dipunyai hanyalah pisang yang masih dipohonnya, lalu ditegorlah pohon pisang itu dan dijualnya untuk modal perjalanan berngakat sowan kepada gurunya Mbah Noer Moga, singkat cerita sesampainya dirumah Mbah Noer Moga yang berada persis dibibir sungai itu, beiau kaget, karna pisang yang ditegor dari kebunnya dan dijualnya dibakul itu, ternyata sangat persis dengan pisang yang dihidangkan oleh Mbah Noer Moga kepada santrinya itu K. Bardi dan KH. Abdul Muid, ( cerita ini dikutib dari dawuh KH. Abdul Muid saat mengkaji kitab Nashoihul Ibad )

KETIKA BANJIR DATANG AIRNYA MENGALIR MIRING MENYINGKIR DARI KEDIAMAN MBAH NOER

kediamannya Mbah Noer Moga memang tidak wajar untuk keumuman manusia, karna apa, kediaman beliau terletak dibawah dasar sampir persis bibir sungai, yang bisa dibilang antara rumah beliau sama sugai tidak ada jarak bahkan bisa dibilang menyatu dengan sungai, tapi itulah yang membuat ke kharismatikan Mbah Noer Moga semakin terlihat, dan kesederhanaan rumahnya yang terbuat dari bambu ( gedhek bahasa jawanya ) itu semakin terlihat kezuhudannya beliau, namun ada titik khowarikul adahnya dari beliau, ketika banjir datang disungai itu, air sungainya tidak pernah merendam rumah Mbah Noer Moga, bahkan air sungainya yang meluap itu seakan mengalir miring menghindari rumah Mbah Noer Moga yang haanya terbuat dari bambu itu, sebesar apapun banjir yang datang, pasti airnya miring dan tidak sampai menggenangi bahkan menyentuh pinti bilik rumahnya Mbah Noer Moga, subahanallah,, kalau allah menyukai seseorang, pasti allah menyuruh semua mahkluk ciptaannya untuk hormat dan takdim kepada orang yang dikasihi allah itu,,,

Demikian sepenggal kisah karomah dan kezuhudan beliau, Mbah Nur Durya bin Sayyid dari Walangsang, Moga, Pemalang, semoga menjadi teladan untuk kita semua umumnya, khususnya untuk penulis pribadi, mohon maaf apabila ada penulisan kata-kata yang kurang berkenan, sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Share kabar ini :

shares